Di ruang tamu rumah, Lisa duduk dengan semangat di sofa, memegang beberapa kertas berisi contoh desain gaun pengantin. Ia terlihat antusias, wajahnya bersinar saat membayangkan hari pernikahannya dengan Barry yang hanya tinggal beberapa bulan lagi. Namun, suasana di ruangan itu terasa dingin. Barry duduk di seberang, dengan wajah yang kosong. Tatapannya tidak tertuju pada desain-desain yang Lisa tunjukkan, melainkan jauh melayang ke tempat lain ke bayangan Alin dan Davin, bayi yang baru saja dilahirkan. “Barry, lihat ini,” ucap Lisa, mencoba menarik perhatian Barry. Ia menggeser salah satu desain ke arahnya. “Aku pikir ini cocok untukku. Elegan, tapi tetap sederhana. Bagaimana menurutmu?” Barry hanya melirik sekilas, kemudian menghela napas. “Terserah kamu, Lisa. Aku yakin apa pun yang

