Beberapa saat kemudian, pintu ruang gawat darurat terbuka, dan para perawat mulai mendorong ranjang Alin yang kini dipindahkan ke ruang VIP. Alin terbaring lemah di atas ranjang itu, wajahnya pucat, dengan selang infus dan alat pemantau yang terpasang di tubuhnya. Barry dan Arman segera berjalan mengikuti dari belakang, keduanya sama-sama diam, tetapi atmosfer di antara mereka terasa sangat tegang. Setelah sampai di depan ruang VIP, para perawat membantu memindahkan Alin ke dalam ruangan. Barry hendak melangkah masuk, tetapi tiba-tiba tangan Arman menahannya dengan kuat. “Kamu tidak boleh masuk ke sana,” ucap Arman dengan nada tegas, matanya menatap tajam ke arah Barry. Barry memutar badannya, menatap Arman dengan sorot mata tak kalah tajam. “Dia istriku, Arman. Aku berhak ada di sana

