Arman mendengarkan keterangan dari seberang sana, yang mana sedetik kemudian raut wajahnya seketika berubah membelalak lebar. “Apa? Saya akan segera ke sana!” tukasnya seraya langsung menyudahi sambungan telepon begitu saja lalu berdiri dari kursinya. “Maaf, silahkan lanjutkan rapatnya dan kirimkan hasilnya pada sekretaris saya!” kata Arman seraya bergegas pergi dari ruangan itu. Sementara itu di Rumah Sakit, Barry pun terlihat tidak tenang menunggu hasil pemeriksaan dokter. Perasaan bersalah menggumpal di dalam d**a, disertai cemas dan takut yang bercampur aduk jadi satu. “Alin,” ucapnya lirih, kepalanya terasa panas memikirkan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Meski kenyataannya dia sudah menjatuhkan talak terhadap Alin, tapi Barry masih tidak rela untuk berpisah sep

