Lisa duduk diam di meja kerjanya yang biasanya dipenuhi dokumen proyek dan agenda rapat. Namun kali ini, meja itu hanya dihuni oleh satu amplop besar berwarna cokelat yang isinya telah ia keluarkan dan bentangkan di hadapannya. Di bagian atas kertas itu, judul “Surat Gugatan Perceraian.” Terpampang jelas, seolah-olah mengejeknya. Ia memandangi surat itu lama, tanpa suara. Tangannya yang biasanya cekatan saat mengetik atau menandatangani dokumen kini gemetar. Mata Lisa yang biasanya tajam sebagai wanita karier kini tampak kosong, penuh keraguan dan kelelahan. "Perceraian," gumam Lisa pelan. Kata itu terasa seperti palu godam yang menghantam hatinya. Selama beberapa detik, pikirannya melayang. Ia ingat masa-masa awal pernikahannya dengan Arman, saat semuanya terasa indah dan penuh harapan

