“Tidak heran jika kamu memiliki pelanggan setia, karena kue buatanmu memang seenak ini, Sayang!” ucap Arman sambil mulutnya penuh dengan kue. Alin terkekeh sambil mengusap sudut bibir Arman yang belepotan krim coklat. “Jangan buru-buru, kuenya masih banyak, kok!” ujarnya. Arman tertawa karenanya, dia juga memberikan potongan terakhir di piringnya untuk Alin. Hanya saja, ketika wanita itu membuka mulutnya, Arman justru sengaja mendekatkan kue itu hingga krim coklatnya belepotan di bibir dan hidung Alin. “Kamu, ih!” pekik Alin tertawa geli. Arman terbahak, melihat wajah Alin yang terdapat krim coklat. “Kamu memang manis, Sayang!” gelaknya. “Baru tahu atau baru nyadar, aku kan memang manis sejak dulu. Buktinya kamu tergoda sama aku!” gurau Alin, hanya saja sedetik kemudian wajahnya jadi

