Alin berada di dapur toko kuenya, sibuk mencampurkan bahan-bahan untuk resep baru yang ingin ia coba. Wajahnya berseri-seri, tangannya dengan cekatan mengaduk adonan sambil sesekali mencicipi sedikit rasa. Perasaan riangnya terpancar jelas, ia merasa semakin menikmati rutinitas barunya di toko ini. Tiba-tiba, salah satu pegawainya muncul di pintu dapur dengan raut wajah sedikit cemas. "Bu Alin, suami Ibu datang." Alin menghentikan gerakannya sejenak, tertegun mendengar kata "suami." Meski ia tahu yang dimaksud pasti Barry, mendengar itu tetap membuat hatinya terenyuh. Dengan berat hati, ia membersihkan tangannya dan berjalan ke area depan toko. Di sana, Barry sudah berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya menyiratkan kesan santai, tetapi matanya memperlihatkan sesuatu y

