Matahari sore menyinari taman dengan lembut, menciptakan bayangan panjang dari pepohonan yang berjajar di sekeliling bangku tempat Arman dan Alin duduk. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun, membawa suasana tenang yang seakan menyelimuti keduanya. Alin duduk bersandar, menggenggam secangkir minuman hangat yang baru saja diberikan oleh Arman. Matanya masih sembab akibat tangisan, tapi wajahnya mulai terlihat lebih rileks. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Arman dengan nada lembut, menatap Alin yang sedang menghangatkan tangannya di sekitar cangkir. Alin tersenyum tipis, meskipun masih ada sisa kepedihan di wajahnya. “Sudah lebih baik. Terima kasih, Arman.” “Syukurlah,” balas Arman sambil menghela napas lega. Dia menoleh ke arah Alin, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian. “

