Alin sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi Davin yang bermain dengan mainannya. Matanya masih terlihat sembab, meskipun Linda terus berusaha menghiburnya sejak hari pertama ia tiba. Perasaan berat masih menyelimuti hati Alin, tetapi kehadiran Davin yang polos menjadi satu-satunya penghiburan di tengah kekacauan hidupnya. Linda masuk ke ruang tamu dengan setumpuk dokumen di tangannya. Ia mengenakan blazer hitam rapi, menunjukkan bahwa ia siap untuk keluar rumah. Ia menatap Alin yang duduk diam, lalu menghampirinya. “Alin, sayang,” panggil Linda lembut sambil duduk di sebelahnya. Alin menoleh dan tersenyum tipis. “Ya, Ma?” “Aku harus pergi hari ini, ada urusan bisnis yang harus aku selesaikan. Mungkin aku akan pulang malam nanti atau paling cepat siang ini,” jelas Linda dengan nad

