Arman duduk di salah satu sudut restoran, berdiskusi serius dengan klien mengenai rencana kerja sama yang sedang mereka susun. Suara alat makan beradu dengan piring terdengar samar di sekitar, mengiringi percakapan hangat di meja-meja lain. Namun, pikiran Arman sesungguhnya melayang. Wajah Alin dan Davin terus menghantui benaknya, terutama setelah semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya. Sesaat, pandangannya teralihkan ke arah pintu masuk restoran. Ia terpaku. Sosok wanita yang baru saja melangkah keluar terasa begitu familiar. Itu ibunya, Linda. Arman tidak percaya. Mengapa ibunya ada di sini? Bukankah Linda seharusnya berada di luar negeri untuk urusan bisnis? Arman berdiri, bersiap untuk mendekat ke meja Linda. Namun, langkahnya terhenti oleh suara kliennya yang memanggil. "Pak A

