Arman yang awalnya tersenyum langsung terdiam. Matanya menatap dalam-dalam pada wajah bayi itu, seolah mencari sesuatu. Alin, yang menyadari perubahan ekspresi Arman, merasa gugup. Dengan cepat, ia menambahkan, “Aku pernah baca ... kalau ibu hamil sering melihat pria tampan, maka bayinya bisa mirip dengannya. Aku selalu berdoa agar bayinya mirip kamu, Arman. Meski pun ... meskipun dia bukan darah dagingmu.” Arman tetap terdiam sejenak, lalu perlahan ia tersenyum lembut. Tangannya yang besar menyentuh pipi Alin, menenangkannya. “Alin, dengar Aku tahu kamu selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Dan aku sudah bilang, apa pun yang terjadi, aku tetap akan menganggap bayi ini sebagai anakku. Dia adalah bagian dari hidup kita sekarang. Dia adalah anak kita.” Mendengar itu, Alin menghela

