Setelah selesai makan dan membersihkan diri, Alin disarankan untuk mencoba berjalan agar tubuhnya tidak kaku. Arman berdiri di depannya dengan tangan terentang, wajahnya dipenuhi senyum penuh semangat. “Ayo, Alin. Ini saatnya. Kita mulai pelan-pelan saja, nggak perlu buru-buru.” Alin menghela napas panjang, menatap kedua kakinya yang masih terasa lemas. “Aku takut, Arman. Bagaimana kalau aku jatuh?” Arman berjongkok di hadapannya, menggenggam tangannya dengan lembut. “Kalau kamu jatuh, aku ada di sini untuk menangkapmu. Kamu nggak sendirian, Alin.” Kata-kata itu memberi Alin sedikit keberanian. Dengan bantuan Arman, ia perlahan berdiri. Lututnya terasa lemah, seperti tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia memegang erat lengan Arman, wajahnya menunjukkan campuran rasa takut dan tekad.

