Pagi itu, suasana rumah Linda terasa berbeda. Alin dan Arman telah memutuskan untuk kembali ke rumah mereka, membawa serta Davin dan harapan baru yang mulai tumbuh di hati mereka. Linda, meskipun merasa berat hati, tahu bahwa ini adalah keputusan yang harus mereka ambil demi masa depan keluarga kecil mereka. “Jadi kalian benar-benar akan pergi hari ini?” tanya Linda sambil membantu membereskan beberapa barang ke dalam koper. Suaranya terdengar datar, namun matanya menunjukkan sedikit kesedihan. “Iya, Ma,” jawab Alin sambil tersenyum kecil. “Kami pikir ini waktu yang tepat. Aku ingin mulai membangun kembali kehidupan kami, apalagi dengan Davin dan ... anak yang ada di kandunganku sekarang.” Alin menundukkan kepala sejenak, menyentuh perutnya yang masih rata. Linda mengangguk pelan. “Mam

