Yoana terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, “Tapi, bagaimana kalau dia menyakitimu lagi? Kamu tidak pantas untuk disakiti seperti itu.” “Aku tahu, Ma. Aku juga takut,” jawab Alin, air mata mulai mengalir di pipinya. “Tapi aku rasa ini adalah kesempatan untuk kami memperbaiki semuanya. Mungkin ini ganjaran atau karma, Ma. Aku sadar, dulu kami juga memulai hubungan ini dengan salah. Dan ternyata, rasanya sesakit ini. Aku mengerti sekarang.” “Alin ....” Suara Yoana terdengar berat, seakan ikut merasakan perasaan putrinya. “Aku ingin menjadi orang yang lebih baik, Ma,” lanjut Alin. “Aku ingin setia, dan aku ingin kami saling menjaga kepercayaan. Arman juga berjanji akan berubah. Aku tahu mungkin sulit bagimu untuk mempercayainya, tapi aku ingin mencoba. Kalau aku tidak mencoba, aku mung

