Resmi Bercerai.

1076 Kata

Sebulan Kemudian, Suasana di apartemen Arman dan Alin terasa tenang, meski ada ketegangan yang samar-samar di udara. Alin duduk di sofa dengan perutnya yang semakin besar, sesekali mengusapnya dengan lembut. Di meja di depannya, ada secangkir teh hangat yang belum disentuh. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca sebuah buku, tetapi fokusnya terus terganggu. Sesekali, ia melirik ke arah Arman yang duduk di meja makan, menatap ponselnya dengan ekspresi serius. “Arman,” panggil Alin pelan. “Sudah ada kabar dari pengacara?” Arman menoleh, menatapnya sejenak, lalu menggeleng. “Belum, tapi seharusnya hari ini ada keputusan,” jawabnya sambil mencoba tersenyum, meski Alin bisa melihat kekhawatiran kecil di matanya. Waktu terasa berjalan lambat. Alin mencoba membaca lagi, tetapi jari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN