Sepulang dari kebun binatang, Arman mengajak Alin ke tempat lain. Seolah tak cukup untuk dia menyenangkan Alin, dan tak mau wanita itu mengingat kesedihannya sedikitpun atau barang sedetik pun. “Agendaku masih panjang, hari ini aku memang berencana mengajak kamu berkeliling ke tempat-tempat yang seru,” katanya sambil fokus mengemudi, sesekali dia menoleh pada Alin yang sejak tadi tertawa-tawa oleh karena canda tawa mereka. Alin terkekeh. “Ya, ya, aku mau-mau saja selama bukan aku yang bayar!” guraunya. Arman pun ikut tertawa karenanya. “Seumur hidup pun rasanya aku bersedia menjadi mesin ATM buat kamu, aku rela, Permaisuri ku!” ucapnya seraya menjawil hidung Alin dengan gemas. Alin kembali tergelak, tertawa lepas dengan wajahnya yang merah merona. Arman yang melihat itu pun tersenyum s

