Alin sedang duduk di ruang tamu apartemen bersama Davin yang tertidur pulas di boks bayi. Sinar matahari pagi menembus tirai, membuat ruangan terasa hangat. Alin menghela napas lega setelah selesai membereskan pakaian Davin. Saat itu, ponselnya berbunyi. Nama “Mama” muncul di layar, membuat Alin terkejut sekaligus gugup. Dengan ragu, dia mengangkat telepon itu. “Halo, Ma?” ucapnya hati-hati. Suara Yoana terdengar di seberang telepon, terdengar lebih lembut dari biasanya. “Alin, apa kabar kamu dan Davin? Aku harap kalian baik-baik saja.” Alin tersenyum mendengar perhatian ibunya. “Kami baik-baik saja, Ma. Terima kasih. Apa kabar Mama?” Yoana menghela napas pelan sebelum berbicara. “Alin, ada yang ingin Mama sampaikan. Setelah bicara dengan Arman, Mama akhirnya memutuskan untuk memberik

