Setelah menjalani beberapa hari perawatan pascaoperasi, Lisa akhirnya diizinkan pulang oleh dokter. Namun, di balik kabar baik itu, hatinya tetap terasa hancur. Barry sudah tidak lagi menemaninya, bahkan sekadar menjenguknya pun tidak. Kini, dia harus menyelesaikan semuanya seorang diri. Dengan langkah berat dan perasaan kesal yang menyesakkan d**a, Lisa berjalan ke bagian administrasi rumah sakit untuk mengurus dokumen kepulangannya. Saat sedang menunggu antrean di loket, pandangan Lisa menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Arman. Dia berdiri di ujung koridor, tampak baru saja menyelesaikan urusan administrasi. Tangan Arman memegang dokumen dengan ekspresi wajah yang tenang. Lisa merasakan amarah yang selama ini dipendamnya mendidih seketika. Tanpa berpikir panjang, dia berjalan cepa

