Kiara menelan salivanya dengan susah, dia bahkan masih tidak percaya jika bosnya melamarnya dan itu suatu hal seperti mustahil baginya. Dia bahkan diam-diam mencubit pahanya sendiri untuk memastikan jika ini tidak bermimpi. "Diammu ku anggap setuju." Ucap Luca yang buat Kiara semakin melotot. "A-apa? Tunggu! Aku belum menjawabny." Luca tersenyum tipis dan berdiri keluar daei sana. Sedangkan Kiara masih mencernanya. "Dia bercanda?" Gumamnya yang mengira jika Luca mungkin bercanda. Dia menghela nafas panjangnya dan tersenyum getir. "Mana mungkin seorang bos dan orang kaya seperti dia mau menikah denganku. Gummanya lalu memilih untuk kembali ke kamarnya. Setelah hampir lima hari pasca meninggalnya ibu dari Kiara, dia sudah sedikit lebih tenang dan benar-benar merelakannya. Namun sia

