Mika memandangi bunga putih itu dengan seksama. Bunga yang sangat cantik, pikirnya. “Mika ngapain di situ?” “Bunganya cantik ya, Mama?” Citra hanya tersenyum. “Mama tahu enggak siapa yang kasih?” “Enggak.” “Mika tahu.” Citra terdiam. Mika tahu? Tidak mungkin. Citra segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Berusaha untuk tidak memikirkan apapun tentang laki-laki itu. Dia memang pernah berharap Raka yang mengiriminya bunga. Tapi segera ditepisnya harapan itu. Hanya saja, jika bukan Raka lalu siapa? Dia tak pernah berharap akan ada laki-laki lain selain suaminya itu. “Mama, apa Mama gak pingin kita bareng sama-sama Papa lagi? Papa kasihan sendirian,” mata Mika berkaca-kaca setiap kali ia menceritakan ayahnya yang sendirian di sana. Tadi sepulang sekolah, ia sempat duduk menunggu aya

