Bab 146: Teman Mika

1301 Kata

“Mama, Mika bawa seseorang. Katanya Mama pingin dikenalin. Tapi janji jangan marah ya,” suara riang Mika terdengar. “Siapa? Teman Mika?” terdengar suara lembut keibuaan yang membuat jantung Raka berdetak lebih keras lagi. Ia bisa merasakan keringat dingin di punggungnya mulai mulai terbentuk dan mengalir pelan. “Papa, Papa gak apa-apa?” Ans terlihat khawatir melihat wajah ayahnya yang berubah pucat. Raka tersenyum kelu. “Papa hanya nervous,” aku Raka jujur. Ans mengernyit. Ayahnya nervous? Petinggi perusahaan Ranuwijaya yang terbiasa menghadapi orang-orang penting? Bahkan ayahnya pernah menghadapi penjahat untuk membela Ans dan tak terlihat senervous itu sama sekali. Mika menggenggam erat tangan ibunya dengan tangan mungilnya, lengkahnya riang membawa perempuan itu menuju ruang tamu,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN