Salsa memejamkan mata saat merasakan napas Elang menyentuh bibirnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, menunggu apa yang akan dilakukan suaminya. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu pelan. Namun tidak ada sentuhan yang datang. Salsa membuka matanya perlahan. Elang masih di posisi yang sama, wajah mereka sangat dekat, hampir bersentuhan, tetapi pria itu berhenti. Tatapannya terkunci di bibir Salsa, sementara rahangnya mengeras dan otot lehernya terlihat tegang, jelas sedang menahan diri. Salsa menelan ludah. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat wajah suaminya dengan jelas. Elang memang selalu tampan. Sejak awal pernikahan, Salsa sering diam-diam mengagumi wajah itu—rahang tegas, alis tebal, dan hidung mancung yang membuatnya sering kalah saat berdebat. Malam-malam sebelumny

