Saat hendak melangkah pergi, sang nenek berbalik. Menatap Varrel tajam. "Dan kamu… jaga dia. Kalau masih ada harga dirimu sebagai laki-laki. Kalau kamu gagal lagi... jangan pernah datang ke rumah Nenek." Varrel berdiri setengah malas, menepuk celana panjangnya. “Iya, iya. Santai aja, Nek.” “Antarkan dia, dan jaga dia. Kalau kamu macam-macam atau sampai kembali melirik perempuan lain, Nenek akan potong.” “Potong apa?” “Pikir saja sendiri,” ucap sang Nenek sinis. Setelah Nenek Linnea keluar, ruangan kembali sunyi. Sunyi yang aneh. Sunyi yang justru terasa semakin penuh, seolah kehadiran sang nenek meninggalkan jejak lembut yang kontras dengan ketegangan yang baru saja mereda. Tasha masih duduk di pinggir ranjang, jari-jarinya menyentuh kotak hadiah iPad yang belum sempat ia tutup. Se

