Namun di balik ketenangan wajahnya, pikirannya mulai menjalar ke tempat lain. Butuh dana besar... Banyak banget uang yang harus digelontorkan. Dan sekarang, ada pria yang berdiri di sisinya... yang ngotot ingin bayinya. Ingin warisannya. Ingin sebuah nama dari darahnya. Tasha menyentuh dagunya pelan. Dalam otaknya, satu kata mulai mengalir: transaksi. Kalau Varrel mau bayi itu… maka dia juga harus mulai bayar dengan sesuatu yang lebih dari sekadar ancaman. “Kita konsentrasikan dulu semua energi untuk ekspansi di Korea. Aku ingin Sarasana benar-benar kokoh di sana sebelum kita melangkah ke mana pun,” ucap Tasha tenang, matanya mengarah langsung pada Maya. “Noted, Mbak. Semua alur distribusi dan campaign akan aku fokuskan di Seoul dan Busan dulu,” jawab Maya mantap. “Untuk peluang pa

