Anggur dan candu-2

726 Kata

“Mau, tapi temenin ya pas minumnya,” sahut Dita cepat, matanya berbinar seperti anak kecil diajak bermain hujan. “Yaudah. Ayo.” Dan seperti itu, Bram menggenggam tangan istrinya, membawanya masuk kembali ke dalam rumah yang kini hanya milik mereka berdua. Di belakang mereka, hujan terus menari di atap dan kaca jendela, menjadi musik pengantar malam yang perlahan... menghangat. **** Mata Dita terpukau melihat gudang anggur di ujung rumah. Bangunan kecil berlapis kayu jati tua itu menyatu dengan dinding rumah utama, tersembunyi di balik taman kecil dan pepohonan lebat. Begitu Bram membuka pintunya, aroma khas anggur tua dan kayu yang mengendap lama menyambut seperti pelukan waktu. Deretan botol berusia puluhan tahun berjajar rapi dalam rak kayu gelap, sebagian bertuliskan label usang dal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN