“Mereka bilang... cinta mereka tidak bisa hidup di dunia nyata. Tapi mereka tinggalkan di sini. Di museum ini.” Ayuning tersenyum kecil, pahit. “Kita tidak selalu mendapatkan cinta yang kita inginkan. Tapi kadang... kita mencintai dalam sunyi, dan membiarkannya tinggal dalam karya.” Dita menelan ludah perlahan, dadanya bergemuruh aneh. Apakah... dirinya dan Bram akan berakhir seperti itu? Dua orang yang pura-pura, saling menyentuh tapi menyimpan luka sendiri-sendiri? Saling jatuh... tapi diam-diam? Tapi... Dita masih belum yakin, apakah ini cinta? Ataukah hanya candu yang tumbuh karena sentuhan? “Sebentar ya, Nduk. Kamu nikmati saja museumnya, Ibu ke belakang dulu,” ucap Ayuning sambil menepuk lengan Dita pelan. Ia pun berjalan pelan meninggalkan ruangan, membiarkan menantunya berdiri

