Suara yang Bocor-2

730 Kata

Dita tertawa malu-malu, tapi tetap melangkah mendekat. Ayuning mengulurkan tangan, memanggil lembut, “Sini, Nduk. Kenalan karo Eyang, ya.” Dita melangkah pelan, lalu duduk berlutut di hadapan pria tua yang meskipun tampak rapuh, sorot matanya masih tajam dan berwibawa. Ia mencium tangan Eyang Wireja dengan penuh hormat. “Salam, Eyang. Kulo Dita... garwane Bram.” (Saya Dita, istrinya Bram.) Eyang tersenyum pelan, matanya menyipit seolah hendak melihat lebih dalam ke dalam jiwa gadis muda itu. Jemarinya yang kurus tapi kuat menyentuh kepala Dita dengan lembut. “Alon-alon, Nduk. Dadi garwane putuku kudu sabar. Bram kuwi keras... ning atine alus.” (Pelan-pelan, Nak. Jadi istrinya cucuku harus sabar. Bram itu keras... tapi hatinya lembut.) Dita tersenyum kaku, namun tetap menjawab, “Inggih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN