Suara yang Bocor-3

1151 Kata

Air mata Dita hampir menetes, tapi ia tahan dengan senyum penuh syukur. Usai berpamitan, ia melangkah perlahan ke arah kamar Bram. Lorong itu panjang dan sepi, tapi penuh dengan potret masa lalu, anak-anak Eyang dalam berbagai tahap usia. Abimana, anak kedua, tetap tinggal di Yogya. Yang lain? Diplomat dan dokter. Semua sukses. Matanya berhenti pada satu foto besar bertanggal tahun lalu, potret keluarga besar dengan Eyang di tengah. Dita mendekat. Tahun ini, wajahnya akan masuk dalam potret baru. Mungkin mengenakan kebaya. Tapi yang pasti... ia sekarang bagian dari darah dan sejarah rumah ini. Dita tenggelam dalam pikirannya sendiri. Apakah ia benar-benar bisa bertahan dalam rumah ini, di sisi Bram, ketika masing-masing dari mereka masih memiliki kisah yang belum benar-benar selesai? Ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN