Hangat dalam Dekap-2

704 Kata

Delon hanya terkekeh, menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Delooon! Ayo ikut juga!” teriak Dita dari gendongan Bram, tertawa-tawa meski wajahnya sudah merah padam. “Siap, Nyonyah!” jawab Delon sambil berdiri dan menyusul langkah mereka menuju ruang makan. Dan Bram? Ia hanya memeluk istrinya lebih erat. Tak peduli berapa huruf ‘D’ yang datang dan pergi yang pasti, satu-satunya yang akan tidur di pelukannya malam ini... adalah Dita. **** Karena ini malam terakhir di Yogyakarta, Dita mengajak Bram menonton pertunjukan Ramayana Ballet bersama Nadira dan Delon. “Sekalian nostalgia. Terakhir nonton ini, aku masih SMA,” ujar Dita sambil menepuk tangan Bram. “Kamu pasti suka.” Bram mengangguk setengah hati. Bukan karena pertunjukannya—tapi karena Delon juga ikut. Ia tidak ingin istrinya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN