Hangat dalam Dekap-3

978 Kata

“Bukan cuma capek, Kak. Cemburu. Mukanya tadi tuh... duh, dingin banget. Mas Bram tuh kalau marah diam. Terus kamu di sini malah asik sama Mas Delon terus.” Dita berkedip. “Cemburu? Sama Delon? Ya ampun... aku kan—” “Udah sadar belum, Kak?” Nadira menyilangkan tangan. “Kalau Mas Bram direbut cewek lain, baru tahu rasa.” Dita langsung menyerahkan keranjang belanjaan ke tangan adiknya. “Ini bawa ke kasir. Bayarin ya, nanti uangnya aku ganti.” “Heh? Kak Dita—” “Udah sana, cepetan!” Ia melangkah cepat, sendalnya berdecit di paving lembab. Baru sadar. Astaga, kenapa malah begini? Bukannya dia yang dirayu, malah dijauhi. Dita menunduk, menahan napas panjang. Kalau Mas Bram marah... bisa-bisa dia tidak dimanja lagi. Dan tidak dimanja oleh Bram? Itu siksaan. Dita masuk ke mobil perlahan, me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN