Benih yang Tumpah-2

732 Kata

Bram menatap wajah di sebelahnya yang kini bersinar seperti mentega cair terkena matahari. Tatapannya menahan senyum. “Apa? Kok Mas liatin aku gitu?” Belum sempat Bram menjawab, Dita sudah memiringkan badan, memberikan kecupan lembut di bibir suaminya. “Pasti Mas pengin dicium, ya? Nih, bonus. Nanti kalau semua tugas kelar hari ini... besok pagi kita bisa mandi bareng.” “Godaan apa ini, ya Tuhan,” ujar Bram, tertawa renyah sambil mengusap rambut Dita yang kusut karena tidur. “Siapa takut, aku beresin semuanya malam ini.” Dita ikut tertawa, menyandarkan kepala di bahu suaminya sambil mengunyah sepotong kue dari kotak kecil yang kini terbuka di pangkuannya. Mobil pun kembali melaju, melintasi lalu lintas Jakarta yang padat, namun kini dipenuhi aroma gula, ciuman manja, dan janji kecil un

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN