Manis yang Pahit-2

710 Kata

Dan ketika akhirnya Bram yakin Dita sudah benar-benar jatuh ke alam mimpi, ia perlahan melepaskan pelukan. Menaikkan selimut hingga ke bahu istrinya, lalu melangkah keluar dari kamar utama yang kini sunyi. Ia menyalakan lampu di ruang kerja kecil, membuka laptop, menyusun file, lalu mulai mengetik, tak hanya laporan untuk kampus, tapi juga tugas-tugas pascasarjana Dita. Semua ia kerjakan... agar besok, saat istrinya bangun, dunia terasa sedikit lebih ringan. *** Bram sudah biasa dengan jam malam. Bahkan tubuhnya seperti punya irama tersendiri, baru betul-betul jernih saat matahari telah lama tenggelam. Dini hari bukan waktu istirahat baginya, melainkan ruang sunyi untuk berpikir, menulis, dan menyelesaikan kewajiban yang tak sempat disinggung saat siang terlalu gaduh. Jadi ketika ia dudu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN