Dita menarik napas panjang. “Aku kuliah cuma biar bisa kabur dari perjodohan. Sekarang udah kejadian juga... buat apa? Aku juga… males.” “Jangan,” potong Bram, cepat tapi lembut. “Kalau kamu berhenti, nanti siapa yang nemenin aku makan siang di kampus? Siapa yang numpang tidur di ruanganku kalau jam kosong?” Dita membuka matanya lebih lebar, memandangi Bram yang kini duduk memiringkan tubuh, tangannya mengelus pelan rambut Dita di atas bantal. “Nanti, kalau kamu datang, aku ajak jalan. Keluar bentar dari kampus, nyari angin. Pokoknya kuliahmu jadi alasan aku buat istirahat juga.” Dita mendengus pelan, tapi senyum sudah terbit di wajahnya. “Tapi tugas-tugasnya... pusing.” “Itu urusan aku,” jawab Bram cepat. “Kamu tinggal datang, duduk cantik di kelas. Nanti aku atur kelas private khusu

