Dita hanya bisa menunduk. Suaranya tercekat, pipinya panas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tangan yang memegang kotak makan mulai bergetar, dan hatinya menyesali kedatangan nekat ini. Namun sebelum ia sempat mencari alasan lain, sebuah tangan melingkar lembut di bahunya. “Pak Semar.” Suaranya dalam, tenang, penuh wibawa. Bram berdiri di samping Dita, mengenakan kemeja abu dan celana kain hitam seperti biasa, tapi tatapannya teguh. “Saya yang menyuruh Dita istirahat. Dia memang sedang tidak fit sejak kemarin. Tapi tampaknya hari ini dia nekat ke kampus karena... merindukan saya.” Pak Semar berkedip cepat. “Merindukan?” “Ya. Dia istri saya, Pak,” jawab Bram ringan. “Kami menikah minggu lalu, saat saya cuti ke Yogyakarta. Hanya keluarga inti yang hadir.” Dita tidak berani menatap sia

