Kevin menggertakkan gigi. Tangannya mengepal di bawah meja. Bram bersandar, matanya tajam, senyum samar mengembang. “I have what you don’t, Kevin. A name. A house. A future. And a bed… she keeps coming back to.” Kevin menarik napas panjang, mencoba menahan amarah yang nyaris menyembur. Tapi ia tetap diam. Tangannya gemetar. Bram memiringkan kepala, suaranya turun menjadi hampir seperti bisikan. “Dita itu rumit. Tapi dia tahu ke mana dia harus pulang. Kamu bisa menyiapkan seribu rencana, seribu café, dan rumah mungil, tapi…” Ia mencondongkan tubuh lagi. “Dia tidak akan bertahan dengan seseorang yang tidak bisa mengimbangi panasnya tubuh dan pikirannya sekaligus.” Diam. Lama. Lalu Kevin mendongak, sorot matanya tak kalah tajam. “Aku nggak peduli apa yang dia lakukan semalam, atau sebul

