Kaca Pecah-2

720 Kata

Lalu Dita menoleh ke arah ranjang. Dan di sanalah Bram. Tubuhnya terbujur dengan selimut hingga d**a. Wajahnya pucat, dengan oksigen yang menutup hidungnya. Sebuah monitor menampilkan garis ritme jantung yang stabil namun lemah. Di sisi ranjang, alat bantu pernapasan berdetak pelan-pelan. Dita berjalan mendekat, menggenggam tangan suaminya yang dingin dan kaku, kemudian mencium keningnya yang masih hangat. “Mas…” bisiknya lirih, tubuhnya mulai goyah. Seorang dokter berpakaian putih memperkenalkan diri sebagai dr. Wira, ahli bedah saraf. Suaranya tenang, tetapi berat. “Bu Dita, kami paham kondisi ini sangat berat. Suami Ibu mengalami trauma kapitis berat akibat benturan langsung di area temporal kiri. Terjadi perdarahan subdural masif yang memicu tekanan intrakranial tinggi. Kami telah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN