Cerewetnya Dita seketika melebur dalam keheningan yang aneh ketika kedua sahabatnya menghampirinya. Tasha melangkah lebih dulu dan tanpa banyak kata langsung menarik Dita ke pelukannya. “Udah... udah, Dit. Nggak apa-apa kalau lo mau nangis sekarang,” bisik Tasha di telinganya, suaranya turun, lembut, seperti tak ingin mengganggu ruangan yang penuh alat medis ini. “Jangan memaksakan diri, kadang ada kalanya kita juga lelah dan menyerah kan? Gak apa, Dita.” Rania menyusul dari sisi lain, memeluk keduanya, dan di situlah semuanya runtuh. Dita tak sanggup lagi menahan tangis. Seluruh pertahanan yang ia bangun selama berhari-hari seketika runtuh dalam dekapan dua tangan yang paling dia percaya. Tubuhnya bergetar, suara tangisnya pecah hingga menggema pelan di ruangan itu. “Gue... gue jahat b

