Waktu yang Berlalu-2

724 Kata

Namun Ayuning terus menjaga suasana tetap hangat. Ia meladeni obrolan ringan, bertanya soal rencana pemulihan Bram, memuji racikan masakan Jayeng yang tetap seenak dulu, dan beberapa kali menyuapi Dita dengan lembut—seperti seorang ibu menyuapi anaknya yang baru pulang sekolah. Semua itu membuat Dita berusaha tetap tenang, meski hatinya penuh ketegangan. Usai makan, Dita mencium tangan keduanya. “Saya pamit ke rumah sakit, Bu, Ma...” ucapnya pelan. “Dita... istirahat saja dulu di sini, Nak,” pinta Ayuning, menyentuh lengannya. “Bram pasti mengerti. Badanmu juga butuh istirahat.” Namun Dita menggeleng perlahan. “Dita tidak bisa, Bu. Malah nggak bisa tidur kalau nggak lihat Mas Bram.” Senyumnya kecut, matanya berkaca-kaca. Ia membungkuk, berpamitan dengan sopan, lalu keluar dari apartemen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN