Waktu yang Berlalu-3

1027 Kata

Dita duduk membatu. Matanya kosong, pikirannya gaduh. Bram mengigau memanggilnya. Bram yang sendirian. Bram yang jatuh sakit karena bekerja terlalu keras… sementara ia sibuk menertibkan luka yang bukan tentang Bram. Ia menggenggam ujung jaketnya, menunduk, lalu mengangkat wajahnya perlahan. Langit mulai menggelap, dan rasa bersalah perlahan menggerogoti seluruh relung tubuhnya. Untuk yang kesekian kalinya, Dita kembali melangkah masuk ke ruang VVIP tempat suaminya dirawat. Ruangan itu sunyi, hanya diisi suara pelan mesin pemantau detak jantung dan embusan pendingin udara yang menggantung di langit-langit. Bram masih terbaring di ranjang, tubuhnya kaku namun damai, seolah tengah tertidur dalam mimpi panjang yang belum selesai. Matanya tetap terpejam, wajahnya pucat namun tetap menunjukkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN