Meja itu langsung hening. Tasha dan Rania saling pandang, tidak ada yang berani menambahkan satu kata pun. Dita menunduk, kedua tangannya menggenggam lutut. Dunia di sekitarnya terasa seperti pusaran lumpur yang semakin menenggelamkannya, dan ia tidak tahu lagi harus berpijak di mana. Tiba-tiba, suara tenang memanggil namanya. “Dita.” Dita menoleh, mendapati Ibu Ayuning mendekat, langkahnya pelan tapi penuh ketegasan khas seorang ibu. Wajahnya teduh meski sorot matanya menyiratkan sesuatu yang serius. Begitu sampai di meja, Ayuning menyapa kedua sahabat Dita lebih dulu dengan senyum lembut. “Sugeng enjang, Nak Tasha, Nak Rania. Matur nuwun sampun rawuh.” (Selamat pagi, Nak Tasha, Nak Rania. Terima kasih sudah datang.) Keduanya segera berdiri, membungkuk sopan dan membalas sapaan. Dita

