Bram bergerak pelan, menggeliat sebentar sebelum menoleh ke arah istrinya dengan senyum yang tak lagi asing, senyum yang dulunya sering memanggil nama Dita dalam doa dan tawa. “Selamat pagi,” ucapnya pelan, suaranya serak dan dalam, lalu menatap perempuan itu seolah tak ingin kehilangan satu detik pun bersamanya. Dita masih terdiam, hatinya berpacu liar. “Mas… beneran ingat aku?” tanyanya nyaris gemetar. Bram tak menjawab, hanya merentangkan kedua tangannya dengan senyum penuh cinta. “Sini,” bisiknya, “peluk suamimu.” Tanpa pikir panjang, Dita langsung menerjang ke dalam pelukan itu, membenamkan wajahnya di leher Bram yang masih hangat oleh sisa malam. “Ya Tuhan, aku seneng banget, Mas… Aku pikir kamu nggak bakal balik,” gumamnya dengan suara pecah, lalu menciumi pipi Bram bertubi-tubi

