Di dalam mobil, Dita menunduk. Tangannya bergerak pelan menyentuh perutnya yang belum menampakkan perubahan apa pun, namun kini terasa berbeda. Ada dua kehidupan kecil di sana, dua denyut yang telah membuat seluruh dunianya jungkir balik dalam sekejap. Kembar. Ia menelan ludah, senyumnya merekah pelan di sudut bibir. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena takut, tapi karena rasa takjub yang tak bisa dibendung. “Pagi ini…” bisiknya sambil mengelus pelan perutnya yang masih datar, “...kita bertiga ya, Nak.” Dan di luar sana, matahari menggantung hangat, menebar sinar keemasan ke sekujur langit kota Yogyakarta. Pagi itu, dua kehidupan kecil telah membawa cahaya baru dalam keluarga Dita dan Bram. Dunia mereka takkan pernah sama lagi. Bram sendiri juga masih tidak percaya, langkahnya cepat nam

