Yogyakarta dan Istimewanya-4

794 Kata

“Yuk, masuk. Eyang udah nunggu dari tadi,” ujar Nadira dengan semangat, menarik kakaknya menuju rumah. Saat mereka melangkah ke pendapa rumah joglo yang luas dan adem, Jayeng keluar dari pintu utama dengan mata berkaca-kaca. Perempuan paruh baya itu mengenakan kebaya krem dan kain batik lurik yang rapi. “Syukur, Ditaku... akhirnya Gusti maringi kado sing paling endah,” ucap Jayeng sambil memeluk Dita. (Akhirnya Tuhan memberi hadiah yang paling indah.) Dita membalas pelukan ibunya dengan erat. “Mama... terima kasih sudah selalu doakan Dita.” Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah utama, di mana Eyang Bromo duduk di kursi goyang, mengenakan beskap hitam dan sarung batik, sementara Eyang Agnia duduk bersisian, mengenakan kebaya cokelat tua. Sasongko, ayah Dita, berdiri di samping meja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN