Daisy mencemberut, bibir mungilnya mengerucut. Namun sang Oma, Lestari, sudah mendekat dan menenangkan. “Nak, pulang dulu ya. Nanti kalau sudah dari Paris, boleh nginep seminggu di sini. Oma janji.” “Otte, tapi beneran ya,” Daisy masih menatap penuh curiga, namun akhirnya mengangguk. Sementara Prabu berpamitan sebentar dengan ayah mertuanya di ruang tamu, Rania melangkah masuk ke dapur yang hangat dan harum. Lestari sudah menyiapkan beberapa makanan dalam wadah kaca besar: semur tahu, tumis pare kesukaan Prabu, dan bubur kacang hijau yang sering membuat Daisy senang. “Ini, dibawa semua ya. Ibu udah tahu pasti kamu mau makan yang gini.” “Tau ajam eheheehehe,” Rania tersenyum haru sambil membantu menutup satu per satu wadah. “Tau banget tabiat kamu yang akhir-akhir ini malas masak kan? K

