Rania menoleh, matanya setengah mengantuk, tapi senyumnya tetap merekah. “Iya, jangan khawatirkan aku. Kamu kerja aja, Mas. Jangan sampai kelelahan dan jangan lama-lama, ya…” Prabu mengangguk, lalu mengecup bibir istrinya pelan. Satu kecupan panjang yang terasa seperti pelindung, seperti bekal paling penting untuk hari itu. Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Prabu memudar di lorong bawah, Rania perlahan merebahkan diri di atas tempat tidur. Nafasnya mengalun panjang, tangan kanannya otomatis mengusap perutnya yang mulai membulat sempurna, tempat calon buah hati mereka bertumbuh dengan tenang. Dari jendela yang dibiarkan terbuka, ia bisa mendengar suara Daisy tertawa riang di taman belakang. Si kecil itu berlari bersama pengasuhnya, suaranya seperti angin musim semi yang menghidupkan

