Menahan Nafsu-3

824 Kata

“Udah mesra-mesraannya?” suara berat Tyo terdengar datar. Prabu bangkit dengan panik, tapi sebelum sempat benar-benar berdiri, Rania sudah memeluk pinggangnya dari belakang. “Gak mau ditinggal…. Jangan tinggalin aku, Mas.” “Besok lagi, Rania… besok lagi. Astaga…” gumam Prabu pelan, mencoba melepas pelan pelukan sang gadis yang kini bergelantungan layaknya bayi monyet pada ranting pohon. “Mas gak boleh tinggalin aku malam ini,” rengek Rania setengah berbisik. Prabu hanya bisa menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, lalu mendekap tangan Rania yang masih mengunci di perutnya. Nasib punya pacar masih muda, batinnya pasrah… tapi bahagia. *** Hari ini, akhirnya Rania benar-benar mendaftarkan skripsinya. Setelah proses panjang menjilid berkas, ia berkeliling ke seluruh penjuru kam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN