Rania memejamkan mata. Tangisnya tertahan. Ingin sekali ia menjerit. Dasar pria! Semalam manja-manjaan, hari ini ngomel kayak setan kampus! “Mas…” lirihnya, nyaris tanpa suara. Tapi tentu saja, pria itu pura-pura tidak mengenalnya. Dan Rania tahu, hari ini, ia bukan kekasih sang rektor. Ia hanya mahasiswi yang sedang diadili. Sidang berakhir dengan berbagai nasihat dari Prabu—tentu masih dalam nada keras yang membuat Rania nyaris menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri di depan meja penguji. Tapi dosen lain, untungnya, memberikan penutup yang sedikit lebih ramah. "Secara substansi kamu punya ide yang menarik, meski eksekusinya masih bisa ditingkatkan," ucap Bu Lilis, tersenyum tipis. “Tapi kamu lulus, Rania. Selamat, dengan beberapa catatan revisi, ya.” Rania mengangguk pelan. “T

