Tok tok tok! “WOI! LAMA AMAT?!” Rania mendengus sambil menempelkan wajahnya ke d**a Prabu. “Sumpah aku pengen kirim Dhika ke bulan.” Namun walaupun ada Dhika sebagai pengganggu—yang tiap lima menit ngetok pintu sambil teriak-teriak sok galak—Rania tetap tidak kehilangan mood bahagianya. Bahkan, senyumnya makin lebar tiap kali Prabu memeluknya diam-diam sebelum keluar kamar. Dan keesokan paginya, keajaiban pun terjadi: Rania yang semalam demam tinggi dan merengek tak karuan, tiba-tiba bangun dengan wajah cerah dan tubuh bugar seperti habis ikut retret penyembuhan batin. Lestari sempat nyaris menjatuhkan gelas jus saat melihat anaknya turun dari tangga sambil menyenandungkan lagu cinta tahun 90-an. Tyo hanya bisa menyipitkan mata, mencurigai bahwa semua drama semalam mungkin cuma taktik

