“Iyaaa, Suamiku,” ucap Rania lembut sambil mencium pipi Prabu sekali lagi sebelum berlari kecil ke arah sahabat-sahabatnya. Prabu hanya menggeleng, lalu berjalan ke sisi lain meja, tempat keluarga besarnya duduk. Ibu Dahayu menyambutnya dengan senyum lelah tapi bahagia, sementara Prof. Wibisana sibuk mengaduk kopi. Namun yang paling mencolok—Tyo. Darmatyo duduk bersedekap dengan wajah dingin. Matanya menatap Prabu seperti hendak menagih utang nasional. Prabu menyapa dengan sopan, duduk di kursi kosong di samping mertuanya. “Iya, Pak. Maaf soal kemarin…” Tyo hanya mengangkat alis. “Kamu tahu berapa jam kamu hilang dari acara pernikahan kamu sendiri?” “Sampai malam, Pak. Maaf.” “Dan kamu bangga?” gumam Tyo sambil menyeruput teh pahit. Ibu Lestari menepuk pelan bahu suaminya. “Udah la

