Percikan Masa Lalu-3

652 Kata

“Boleh, Sayang. Kalau Ayah kemana?” Pelayan rumah mendekat, membungkuk kecil. "Pak Prabu pergi lebih pagi, Bu. Ada urusan penting. Beliau tidak mau membangunkan Ibu, karena katanya Ibu tampak kelelahan." Rania menghela napas dalam-dalam, menahan rasa sebal yang perlahan menguar. Bukan marah, hanya... ia tidak suka ditinggalkan tanpa sempat melihat senyum pagi Prabu. Rasanya kosong. "Baiklah," gumam Rania pelan sambil duduk di kursi sebelah Daisy dan mulai mengambil roti bakar yang sudah disiapkan. Daisy mengunyah lahap, kaki kecilnya bergoyang di udara. Sesekali ia menyodorkan sendok ke arah Bundanya, menawarkan sosis kecil, membuat Rania tak bisa menahan tawa. Hingga tiba-tiba— Ding-dong! Bel apartemen berbunyi nyaring. Salah satu pelayan segera berjalan ke pintu dan membukanya. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN