Amarah dan Kebohongan-2

702 Kata

Dita berdiri tak jauh dari sana, berdiri gelisah di depan jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Ia baru saja kembali dari dapur membawa segelas air hangat, meletakkannya di meja di depan Rania, lalu duduk di samping sahabatnya yang masih tersedu-sedu. "Ran... cukup. Udah. Lo gak bisa kayak gini terus," ucap Dita lirih tapi tegas, tangannya menggenggam tangan Rania. Rania menggeleng, menunduk semakin dalam. "Lo lihat sendiri, Dit. Dia di apartemen itu... sama perempuan itu... lo lihat sendiri!" suaranya pecah, menggigil. "Ya, tapi siapa yang bilang itu sekarang? Bisa aja itu foto lama, atau entah siapa. Lo bahkan gak tahu tempatnya di mana. Kita gak bisa asal tarik kesimpulan dari satu foto kabur!" Dita mencoba mengembalikan logika ke kepala sahabatn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN